19 janvier 2017 ~ 0 Commentaire

Tata Cara Aqiqah Menurut Agama Islam

Tata Cara Aqiqah Menurut Agama Islam Backup_of_Undangan+aqiqah
Dari sisi bahasa ‘Aqiqah artinya: menguraikan. Asalnya dinamakan ‘Aqiqah, sebab dipotongnya leher binatang beserta penyembelihan tersebut. Ada yang mengatakan bahwa aqiqah merupakan nama untuk hewan yang disembelih, dinamakan demikian sebab lehernya dipotong Ada pun yang mengatakan bahwa ‘aqiqah itu asalnya ialah: Sabut yang ada pada kepala si bayi ketika ia keluar dari rahim ibu, rambut tersebut disebut ‘aqiqah, karena ia mesti dicukur.

Aqiqah ialah penyembelihan domba/kambing untuk bayi yang dilahirkan pada hari ke tujuh, 14, / 21. Jumlahnya 2 kontrol untuk bayi laki-laki dan 1 termuda untuk bocah perempuan.

Dalil-dalil Pelaksanaan

Mulai Samurah bin Jundab dia berkata: Rasulullah bersabda: “Semua anak balita tergadaikan beserta aqiqahnya yang pada hari ketujuhnya disembelih hewan (kambing), diberi sebutan dan dicukur rambutnya. ” [HR Abu Dawud, Tirmidzi, Nasa’i, Ibnu Majah, Ahmad]

Atas Aisyah dia berkata: Rasulullah bersabda: “Bayi laki-laki diaqiqahi dengan dua kambing yang serupa dan budak perempuan mono kambing. ” [HR Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Majah]

Anak-anak ini tergadai (tertahan) dengan aqiqahnya, disembelih fauna untuknya di hari ketujuh, dicukur kepalanya dan diberi nama. ” [HR Ahmad]

Atas Salman bin ‘Amir Ad-Dhabiy, dia berkata: Rasululloh menitahkan: “Aqiqah dilaksanakan karena kelahiran bayi, dipastikan sembelihlah hewan dan hilangkanlah semua sindiran darinya. ” [Riwayat Bukhari]

Dari ‘Amr bin Syu’aib dari ayahnya, daripada kakeknya, Nabi bersabda:

“Barangsiapa diantara kalian yang ingin menyembelih (kambing) karena kemunculan bayi maka hendaklah ia lakukan untuk laki-laki 2 kambing yang serupa dan untuk perempuan wahid kambing. ” [HR Abu Dawud, Nasa’i, Ahmad]

Dari ‘Aisyah RA, ia berkata, “Rasulullah SAW sempat ber ‘aqiqah untuk Patut dan Husain pada hari ke-7 atas kelahirannya, beliau memberi identitas dan menitahkan supaya dihilangkan kotoran dari kepalanya (dicukur)”. [HR. http://dapoeraqiqah.com/paket-aqiqah-bandung/ Hakim, di AI-Mustadrak bagian 4, sesuatu. 264]

Bukti: Hasan & Husain ialah cucu Nabi SAW.

Mulai Fatimah binti Muhammad ketika melahirkan Laksmi, dia mengatakan: Rasulullah bertitah: “Cukurlah rambutnya dan bersedekahlah dengan argentum kepada orang2 miskin seberat timbangan rambutnya. ” [HR Ahmad, Thabrani, & al-Baihaqi]

Atas Abu Buraidah r. a.: Aqiqah tersebut disembelih saat hari ketujuh, atau keempat belas, atau kedua puluh satunya. (HR Baihaqi & Thabrani).

Pedoman Aqiqah Bujang adalah sunnah (muakkad) setara pendapat Kepala Malik, penduduk Madinah, Kepala Syafi’i & sahabat-sahabatnya, Imam Ahmad, Ishaq, Abu Tsaur dan mayoritas ulama ulung fiqih (fuqaha).

Dasar yang dipakai oleh kalangan Syafii dan Hambali dengan mengatakannya sebagai jasad yang sunnah muakkadah adalah hadist Nabi SAW. Yang berbunyi, “Anak tergadai dengan aqiqahnya. Disembelihkan untuknya dalam hari ketujuh (dari kelahirannya)”. (HR al-Tirmidzi, Hasan Shahih)

“Bersama anak laki-laki ada aqiqah, maka tumpahkan (penebus) darinya darah sembelihan dan bersihkan darinya buangan (Maksudnya cukur rambutnya). ” (HR: Ahmad, Al Bukhari dan Ashhabus Sunan)

Ujar: “maka tumpahkan (penebus) darinya darah sembelihan” adalah perintah, namun tidak bersifat tentu, karena terdapat sabdanya yang memalingkan dari kewajiban ialah: “Barangsiapa diantara kalian tersedia yang ingin menyembelihkan untuk anak-nya, oleh karena itu silakan lakukan. ” (HR: Ahmad, Duli Dawud serta An Nasai dengan sanad yang hasan).

Perkataan: “ingin menyembelihkan,.. ” merupakan dalil yang menjungkirkan perintah yang pada dasarnya tentu menjadi sunnah.

Imam Tuan berkata: Aqiqah itu sebagaimana layaknya nusuk (sembeliah denda larangan haji) dan udhhiyah (kurban), tidak boleh di dalam aqiqah itu hewan yang picak, kurus, patah urat, dan nyeri. Imam Asy-Syafi’iy berkata: & harus dihindari dalam fauna aqiqah tersebut cacat-cacat yang tidak diperbolehkan di dalam qurban.

Buraidah berkata: Dulu kami dalam masa jahiliyah apabila melenceng seorang diantara kami mempunyai anak, ia menyembelih kibas dan menggores kepalanya beserta darah kibas itu. Dipastikan setelah Sang pencipta mendatangkan Islam, kami menyembelih kambing, memotong (menggundul) oknum si budak dan melumurinya dengan minyak wangi. [HR. Debu Dawud bab 3, hal. 107]

Mulai ‘Aisyah, ia berkata, “Dahulu orang-orang dalam masa jahiliyah apabila meronce ber’aqiqah untuk seorang balita, mereka menconteng kapas secara darah ‘aqiqah, lalu begitu mencukur rambut si bayi mereka melumurkan pada kepalanya”. Maka Rasul SAW berkata, “Gantilah darah itu beserta minyak wangi”.[HR. Rumpun Hibban dengan tartib Putri Balban surah 12, hal. 124]

Pelaksanaan aqiqah pikir kesepakatan para ulama ialah hari ketujuh dari kemunculan. Hal berikut berdasarkan hadits Samirah di mana Nabi SAW menitahkan, “Seorang budak terikat secara aqiqahnya. Ia disembelihkan aqiqah pada hari ketujuh dan diberi nama”. (HR. al-Tirmidzi).

Namun demikian, apabila terlewat dan bukan bisa dilaksanakan pada hari ketujuh, ia bisa dilaksanakan pada hari ke-14. Dan jika tidak juga, maka saat hari ke-21 atau masa saja ia mampu. Kepala Malik mengatakan: Pada dzohirnya bahwa keterikatannya pada hari ke 7 (tujuh) buat dasar bujukan, maka sekiranya menyembelih saat hari ke 4 (empat) ke 8 (delapan), di 10 (sepuluh) atau setelahnya Aqiqah tersebut telah cukup. Karena pijakan ajaran Islam adalah memudahkan bukan menyulitkan sebagaimana panduan Allah SWT: “Allah menghendaki kemudahan bagimu dan gak menghendaki kegaduhan bagimu”. (QS. Al Baqarah: 185)

Menunaikan aqiqah disunnahkan pada hari yang ketujuh dari kelahiran, ini berdasar pada sabda Nabi SAW, yang artinya: “Setiap anak tersebut tergadai secara hewan aqiqahnya, disembelih darinya pada hari ke tujuh, dan dia dicukur, & diberi sebutan. ” (HR: Imam Ahmad dan Ashhabus Sunan, dan dishahihkan sama At Tirmidzi)

Dan bila tidak bisa melaksanakannya di hari ketujuh, maka mampu dilaksanakan saat hari di empat belas kasihan, dan apabila tidak bisa, maka di hari ke dua persepuluhan satu, berikut berdasarkan hadits Abdullah Pelerai demam Buraidah atas ayahnya atas Nabi Shallallaahu alaihi wa Sallam, sira berkata yang artinya: “Hewan aqiqah itu disembelih dalam hari ketujuh, ke 4 belas, serta ke 2 puluh wahid. ” (Hadits hasan babad Al Baihaqiy)

Namun sehabis tiga minggu masih tidak mampu maka kapan saja pelaksanaannya pada kala telah mampu, sebab pelaksanaan dalam hari-hari ke tujuh, di empat belas kasihan dan ke dua puluh satu adalah sifatnya sunnah dan paling utama sungguh wajib. Serta boleh juga melaksanakannya pra hari ke tujuh.

Budak yang meninggal dunia sebelum hari ketujuh disunnahkan pun untuk disembelihkan aqiqahnya, lebih dari itu meskipun momongan yang kelulusan dengan tumpuan sudah berusia empat kamar di dalam isi ibunya.

Aqiqah adalah syari’at yang ditekan kepada rama si bayi. Namun kalau seseorang yang belum dalam sembelihkan satwa aqiqah sama orang tuanya hingga ia besar, jadi dia siap menyembelih aqiqah dari dirinya sendiri, Syaikh Shalih Al Fauzan berkata: Dan kalau tidak diaqiqahi oleh ayahnya kemudian dia mengaqiqahi dirinya sendiri dipastikan hal itu tidak apa-apa menurut hamba, wallahu ‘Alam.

Hukum Aqiqah Setelah Dewasa/Berkeluarga

Pada dasarnya aqiqah disyariatkan untuk dilaksanakan dalam hari ketujuh dari kelahiran. Jika bukan bisa, jadi pada hari keempat belas. Dan jika bukan bisa pula, maka di dalam hari kedua puluh satu. Selain itu, pelaksanaan aqiqah menjadi muatan ayah.

Tapi demikian, bila ternyata pada kecil ia belum diaqiqahi, ia sanggup melakukan aqiqah sendiri pada saat mantap. Satu begitu al-Maimuni bertanya kepada Imam Ahmad, “ada orang yang belum diaqiqahi apakah tatkala besar ia boleh mengaqiqahi dirinya sendiri? ” Kepala Ahmad menyongsong, “Menurutku, kalau ia belum diaqiqahi saat kecil, jadi lebih elok melakukannya seorang diri saat dewasa. Aku tidak menganggapnya makruh”.

Para saudara Imam Syafi’i juga menganggap demikian. Pendapat mereka, anak-anak yang sudah biasa dewasa yang belum diaqiqahi oleh orang tuanya, dianjurkan baginya untuk melakukan aqiqah sendiri.

Total Hewan

Nominal hewan aqiqah minimal ialah satu upaya baik untuk laki-laki / pun untuk perempuan, sebagaimana perkataan Putra Abbas ra: “Sesungguh-nya Nabi SAW mengaqiqahi Hasan dan Husain satu domba satu domba. ” (Hadits shahih riwayat Debu Dawud serta Ibnu Al Jarud)

Kita harus sadar bahwa Lembut dan Husain adalah bani kembar. Jadi pada wahid kelahiran ini disembelih dua ekor wedus.

Namun yang lebih tertinggi adalah 2 ekor untuk anak laki-laki serta 1 upaya untuk anak perempuan menurut hadits-hadits dibawah ini:

Ummu Kurz Al Ka’biyyah berkata, yang artinya: “Nabi SAW mengharuskan agar dsembelihkan aqiqah atas anak laki-laki 2 ekor domba dan dari anak cewek satu upaya. ” (Hadits sanadnya shahih riwayat Imam Ahmad & Ashhabus Sunan)

Dari Aisyah ra berkata, yang mempunyai: “Nabi SAW memerintahkan itu agar disembelihkan aqiqah dari anak laki-laki dua ekor kambing yang sama dan mulai anak dara satu ekor. ” (Shahih riwayat At Tirmidzi)

Hal-hal yang disyariatkan sehubungan beserta ‘aqiqah

Yang berhubungan dengan sang bani

1. Disunnatkan untuk menyampaikan nama serta mencukur rambut (menggundul) dalam hari ke-7 sejak hari iahirnya. Contohnya lahir pada hari Unik, ‘aqiqahnya rontok pada hari Sabtu.

2. Bagi bani disunnatkan ber’aqiqah dengan 2 ekor kambing sedang bagi anak perempuan 1 termuda.

3. ‘Aqiqah ini terutama dibebankan kepada orang tua si anak, namun boleh pun dilakukan oleh keluarga lainnya (kakek serta sebagainya).

4. Aqiqah berikut hukumnya sunnah.

Daging Aqiqah Lebih Bagus Mentah / Dimasak

Disarankan agar dagingnya diberikan di kondisi sudah dimasak. Hadits Aisyah ra., “Sunnahnya dua ekor wedus untuk anak laki-laki dan satu ekor wedus untuk bani perempuan. Ia dimasak tanpa mematahkan tulangnya. Lalu dimakan (oleh keluarganya), dan disedekahkan pada hari ketujuh”. (HR al-Bayhaqi)

Daging aqiqah dikasih kepada tetangga dan fakir miskin pula bisa dikasih kepada sosok non-muslim. Bahkan jika sesuatu itu dimaksudkan untuk menarik simpatinya serta dalam rangka dakwah. Dalilnya adalah nasihat Allah, “Mereka memberi mencopet orang rendah, anak yatim, dan tahanan, dengan sanubari senang”. (QS. Al-Insan: 8). Menurut Ibn Qudâmah, tawanan pada tatkala itu adalah orang-orang keparat. Namun demikian, keluarga pula boleh menandaskan sebagiannya.

Yang berhubungan secara binatang sembelihan

1. Di masalah ‘aqiqah, binatang yang boleh dipergunakan sebagai sembelihan hanyalah kibas, tanpa menjamu apakah pelupuk mata atau perempuan, sebagaimana sejarah di kolong ini:

Dari Ummu Kurz AI-Ka’biyah, bahwasanya ia pernah bertanya mendapatkan Rasulullah SAW tentang ‘aqiqah. Maka tutur beliau SAW, “Ya, untuk anak laki-laki dua ekor kambing dan untuk anak dara satu kontrol kambing. Tidak menyusahkanmu indah kambing ini jantan mau pun betina”. [HR. Ahmad dan Tirmidzi, dan Tirmidzi menshahihkannya, dalam Nailul Authar 5: 149]

Dan abdi belum meraih dalil lainnya yang menyibakkan adanya binatang selain wedus yang dipergunakan sebagai ‘aqiqah.

2. Zaman yang dituntunkan oleh Rasul SAW menurut dalil yang shahih yakni pada hari ke-7 per kelahiran bujang tersebut. [Lihat dalil riwayat ‘Aisyah dan Samurah di atas]

Pembagian daging Aqiqah

Tentang hal dagingnya dipastikan dia (orang tua anak) bisa memakannya, menghadiahkan sebagian dagingnya, serta mensedekahkan beberapa lagi. Syaikh Utsaimin mengatakan: Dan gak apa-apa dia mensedekahkan darinya dan mengumpulkan kerabat & tetangga untuk menyantap target daging aqiqah yang telah matang. Syaikh Jibrin berkata: Sunnahnya dia memakan sepertiganya, menghadiahkan sepertiganya kepada sahabat-sahabatnya, dan mensedekahkan sepertiga juga kepada umat islam, dan mahir mengundang sobat-sobat dan nenek untuk menyantapnya, atau larat juga dia mensedekahkan semuanya. Syaikh Pelerai demam Bazz mengatakan: Dan kamu bebas memilih antara mensedekahkan seluruhnya ataupun sebagiannya dan memasaknya lantas mengundang orang2 yang tuan lihat pantas diundang mulai kalangan suku, tetangga, teman2 seiman & sebagian orang2 faqir untuk menyantapnya, serta hal serupa dikatakan per Ulama-ulama yang terhimpun dalam Al lajnah Ad Daimah.

Pemberian Nama Keturunan

Tidak diragukan lagi jika ada kaitan antara definisi sebuah identitas dengan yang diberi nama. Hal tersebut ditunjukan dengan adanya sekitar nash syari yang menyatakan hal itu.

Dari Debu Hurairoh Ra, Nabi SAW bersabda: “Kemudian Aslam semoga Allah menyelamatkannya dan Ghifar semoga Tuhan mengampuninya”. (HR. Bukhori 3323, 3324 dan Muslim 617)

Ibnu Al-Qoyyim berkata: “Barangsiapa yang menggubris sunah, ia akan meraih bahwa makna-makna yang tersembunyi dalam pamor berkaitan dengannya sehingga serasa makna-makna ini diambil darinya dan seakan-akan nama-nama itu diambil daripada makna-maknanya”. Meski anda ingin mengetahui buah nama-nama terhadap yang diberi nama (Al-musamma) maka perhatikanlah hadits pada bawah itu:

Dari Said bin Musayyib dari bapaknya dari kakeknya Ra, ia berkata: Hamba datang menurut Nabi SAW, beliau pula biar bertanya: “Siapa namamu? ” Aku jawab: “Hazin” Nabi berkata: “Namamu Sahl” Hazn berkata: “Aku tidak akan merobah nama pemberian bapakku” Pelerai demam Al-Musayyib mengatakan: “Orang itu senantiasa sok keras tentang kami setelahnya”. (HR. Bukhori) (At-Thiflu Wa Ahkamuhu/Ahmad Al-’Isawiy hal 65)

Oleh karena itu, pemberian nama yang cantik untuk anak-anak menjadi salah satu kewajiban wali. Di antara nama-nama yang elok yang cukup diberikan merupakan nama rasul penghulu jaman yaitu Muhammad. Sebagaimana petuah beliau: Atas Jabir Ra dari Rasul SAW beliau bersabda: “Namailah dengan namaku dan janganlah engkau menggunakan kunyahku”. (HR. Bukhori 2014 dan Muslim 2133)

Untuk mengetahui jalan pemberian nama yang baik dari segi ajaran Agama islam, silahkan kelompok:

Memberi Pamor Bayi alias Anak Dengan Islami

Menjatuhkan Rambut

Menjatuhkan rambut merupakan anjuran Rasul yang luar biasa baik untuk dilaksanakan tatkala anak yang baru wujud pada hari ketujuh.

Dalam hadits Samirah disebutkan bahwa Rasulullah saw. Bersabda, “Setiap anak tersekat dengan aqiqahnya. Pada hari ketujuh disembelihkan hewan untuknya, diberi identitas, dan dicukur”. (HR. at-Tirmidzi).

Dalam kitab al-Muwaththâ` Imam Malik memberitahukan bahwa Fatimah menimbang berat rambut Hasan dan Husein lalu beliau menyedekahkan perak seberat rambut tersebut.

Tiada ketentuan apakah harus digundul atau tidak. Tetapi yang jelas pencukuran tersebut harus dilakukan dengan rata; bukan boleh hanya mencukur beberapa kepala serta sebagian lainnya dibiarkan. Pasti lah semakin banyak rambut yang dicukur dan ditimbang semakin -insya Allah- semakin besar lagi sedekahnya.

Rayuan Menyembelih Hewan Aqiqah

Bismillah, Allahumma taqobbal min muhammadin, wa aali muhammadin, wa min ummati muhammadin.

Berarti: Dengan sebutan Allah, ya Allah terimalah (kurban) atas Muhammad dan keluarga Muhammad serta daripada ummat Muhammad. ” (HR Ahmad, Muslim, Abu Dawud)

Doa bayi baru dilahirkan

Innii u’iidzuka bikalimaatillaahit taammati min kulli syaythaanin wa haammatin wamin kulli ‘aynin laammatin

Mempunyai: Aku berlindung untuk budak ini dengan kalimat Allah Yang Sempurna dari sekalian gangguan syaitan dan gelaran binatang dan gangguan sorotan mata yang dapat menjinjing akibat buruk bagi segala sesuatu yang dilihatnya. (HR. Bukhari)

Hikmah Aqiqah

Aqiqah Pikir Syaikh Abdullah nashih Ulwan dalam kitab Tarbiyatul Aulad Fil Islam sebagaimana dilansir di 1 buah situs mempunyai beberapa moral diantaranya:

1. Menghidupkan sunnah Nabi Muhammad SAW dalam meneladani Nabiyyullah Ibrahim AMERIKA SERIKAT tatkala Tuhan SWT menutup putra Ibrahim yang tercinta Ismail USA.

2. Di aqiqah itu mengandung point perlindungan dari syaitan yang dapat meniadakan anak yang terlahir tersebut, dan tersebut sesuai secara makna hadits, yang berarti: “Setiap anak itu tergadai dengan aqiqahnya. ” [3]. Sehingga Anak yang telah ditunaikan aqiqahnya insya Sang pencipta lebih tersembunyi dari seloroh syaithan yang sering mengocok anak-anak. Hal inilah yang dimaksud oleh Al Kepala Ibunu Al Qayyim Al Jauziyah “bahwa lepasnya dia dari syaithan tergadai oleh aqiqahnya”.

3. Aqiqah adalah tebusan hutang anak untuk memberikan syafaat bagi ke-2 orang tuanya kelak saat hari rekapitulas. Sebagaimana Imam Ahmad menunjukkan: “Dia tergadai dari menurunkan Syafaat untuk kedua sosok tuanya (dengan aqiqahnya)”.

4. Merupakan kerangka taqarrub (pendekatan diri) kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala sekaligus guna wujud mencicip syukur untuk karunia yang dianugerahkan Sang pencipta Subhanahu wa Ta’ala secara lahirnya sang anak.

5. Aqiqah sebagai sarana menampakkan rasa gembira dalam melaksanakan syari’at Islam & bertambahnya keturunan mukmin yang dengan memperbanyak umat Rasulullah SAW pada hari kiamat.

6. Aqiqah memperkukuh ukhuwah (persaudaraan) diantara masyarakat.

Dan tetap banyak juga hikmah yang terkandung dalam pelaksanaan Syariat Aqiqah itu.

Pengertian Aqiqah, Dalil Syari Tentang Aqiqah, Hukum Aqiqah Oleh Duli Muhammad ‘Ishom bin Mar’i[Disalin serta diringkas kembali dari kitab “Ahkamul Aqiqah” karya Abu Muhammad ‘Ishom bin Mar’i, terbitan Maktabah as-Shahabah, Jeddah, Saudi Arabia, dan diterjemahkan oleh Mustofa Mahmud Butala al-Bustoni, secara judul “Aqiqah” terbitan Sirat Ilahi Press, Yogjakarta, 1997]

Laisser un commentaire

Vous devez être Identifiez-vous poster un commentaire.

Stlouiscultureblog |
Hey les 4e1! |
Grandirconfiancereussite |
Unblog.fr | Créer un blog | Annuaire | Signaler un abus | Cestmoilartiste
| Voy A Estudiar
| Shrimp58wound